Kapolres bersama Bupati dan Forkopimda saat panen raya di Ponpes Segoro Agung Trowulan

Kapolres bersama Bupati dan Forkopimda saat panen raya di Ponpes Segoro Agung Trowulan

Mojokerto, Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander bersama Bupati  Mojokerto, Pungkasiadi dan Muhammad  Sarmuji, Anggota Komisi XI DPR RI dan Forkopimda setempat melaksanakan kegiatan panen raya di Ponpes Segoro Agung, Kecamatan Trowulan, Rabu (05/08). Kegiatan dalam rangka mensukseskan program pemerintah ketahanan pangan nasional tersebut dikemas dalam tema bangkit kembali kekuatan agraris bumi Mojopahit. Selain melaksanakan kegiatan panen raya, kapolres juga turut membagikan bantuan beras kepada 200 warga.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander mengatakan, TNI, Polri dan pemerintah daerah siap mendukung petani dalam mensukseskan program pemerintah dalam bidang ketahanan pangan nasional, khususnya di daerah Kabupaten Mojokerto. “Dengan kegiatan panen raya ini kami mengapresiasi petani yang mampu menciptakan swasembada pangan,” terang Kapolres.

Lebih lanjut dikatakannya, petani merupakan profesi yang mulia yang harus didukung untuk swasembada pangan Indonesia.Saat kondisi pandemi covid-19 seperti ini, petani merupakan ujung tombak dalam swasembada pangan di dalam Kampung Tangguh Semeru.”Kampung tangguh merupakan kampung yang mampu mengatasi persolan dampak covid-19 dengan mandiri,”ujar Kapolres.

Sementara Bupati Mojokerto Pungkasiadi bertutur jika Majapahit pada zaman dahulu telah dikenal memiliki sistem pertanian yang maju. Sangat masuk akal jika semua ilmu pertanian leluhur yang diajarkan, akhirnya diwariskan sebagai sebuah budaya dan kearifan lokal untuk mewujdukan ketahanan pangan. Sehingga, Kabupaten Mojokerto setiap tahun mampu mencapai surplus hingga 78 ribu ton.

“Tiap tahun, kita surplus mencapai 78 ribu ton. Ketahanan pangan semua sudah diprogramkan di Kabupaten Mojokerto. Bahkan, untuk tanaman pendamping seperti jagung dan ketela pohon sekalipun. Majapahit dulu memang dikenal sebagai ahlinya pertanian. Bahkan, ada hari-hari penanggalan untuk memutuskan tepat tidaknya panen. Misalnya, tanaman padi cocok dipanen pada Minggu Pahing. Nenek moyang kita sangat jeli memprediksi cuaca dan irigasi. Panen ini upaya kita untuk nguri-uri budaya,” tutur bupati.

Sarmuji Anggota Komisi XI DPR RI dalam sambutan sepakat jika panen raya ini merupakan ikhtiar mewujudkan ketahanan pangan, dengan tetap mempertahankan kultur budaya.

“Saya memaknai panen ini sebagai upaya membangkitkan kejayaan Majapahit di bidang pertanian. Tanah kita tanah Lohjinawi, sangat subur, ditanami apa saja tumbuh. Logistik itu sesuatu yang sangat strategis. Meski beras bisa saja diimport, tapi ketahanan pangan sangat penting. Kedaulatan pangan sangat utama. Dengan begitu, petani juga bisa sejahtera,” pungkas Sarmuji.